Makna-makna Utama Surah-Surah Al-Quran
157 views | +0 today
Follow
Makna-makna Utama Surah-Surah Al-Quran
Pengenalan dan pengantar tadabbur ayat-ayat Al-Quran per-surah
Curated by Babanya Shofia
Your new post is loading...
Your new post is loading...
Scooped by Babanya Shofia
Scoop.it!

Makna-makna Utama Surah Al-Baqarah - I

 

Surah Al-Baqarah adalah surah pertama dalam mushaf setelah Al-Fatihah. Al-Baqarah merupakan surah Al-Quran terpanjang dan terbagi menjadi 286 ayat (menurut versi pembagian qiraat Kufah yang sekarang jamak dipakai di Asia). Surah yang turun di Madinah ini mengandung banyak keistimewaan. Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya Syetan itu akan melarikan diri dari rumah yang di situ dibaca surah Al-Baqarah." (HR. Muslim). Beliau juga menyebut surah ini (bersama Ali Imran) sebagai "Az-Zahrâ'" (pelita cemerlang) serta bersabda, "Bacalah dua pelita cemerlang, yaitu Al-Baqarah dan surah Ali Imran, sebab (pahala) keduanya akan datang pada Hari Kiamat (dalam bentuk) serupa dua gumpalan awan yang siap membela para penggemarnya." Rasulullah SAW kemudian melanjutkan, "Bacalah surah Al-Baqarah sebab perhatian terhadapnya merupakan keberkahan, pengabaian terhadapnya merupakan kerugian, dan para penyihir tidak akan sanggup mengalahkannya." (HR. Muslim).


Al-Baqarah yang seakan merangkum isi surah-surah yang tercantum setelahnya ini menyoroti semua aspek ajaran agama, baik secara rinci maupun global. Karena itulah para ulama pun menjulukinya sebagai "Fusthâthu-l Qur'an" (payung Al-Quran). Surah ini memaparkan ajaran aqidah, akhlaq, sampai hukum-hukum Syariat baik pribadi maupun sosial. Surah ini juga menuturkan aneka kisah umat terdahulu sebagai bahan renungan, terutama kisah tentang sikap Bani Israil terhadap perintah Allah SWT untuk meyembelih baqarah (seekor sapi) yang demikian dalam nilai pelajarannya.


Semua kandungan surah ini adalah bekal melimpah bagi seorang muslim untuk memaksimalkan pengamalan agamanya serta memperbaiki perilakunya. Tak heran jika kemudian Rasulullah SAW pun menyebutnya sebagai "Sinâmu-l Qur'ân", puncaknya Al-Quran (HR. Al-Hakim). Saking melimpahnya kandungan surah ini, Abdullah Ibnu Umar RA sampai butuh waktu 8 tahun untuk menghafalnya. Ayahnya, Umar ibnul Khaththab RA, bahkan konon baru tuntas menghafalnya setelah 12 tahun. Ini karena para shahabat itu tidaklah sekadar menghafal lafal-lafal Al-Quran, tetapi sekaligus mempelajari kandungan-kandungannya serta berusaha keras untuk segera mengamalkannya sekuat tenaga.

 

 

WAHYU ALLAH DAN SIKAP PARA HAMBANYA


[ayat 1-29] Al-Baqarah membuka rangkaian ayat-ayatnya dengan menyatakan kebenaran wahyu Al-Quran. Kebenaran ini hanyalah bermanfaat bagi mereka yang mengimani dan mengamalkannya serta meyakini alam Akhirat. Sebaliknya, kaum kafir yang terang-terangan mengingkarinya atau kaum munafik yang pura-pura percaya tetapi kerap melecehkannya akan meraup kerugiaan tak terperi. Surah ini kemudian mengumandangkan seruannya kepada segenap manusia untuk beribadah secara ikhlas kepada Tuhan Sang Pencipta, mengimani dan mengamalkan wahyu-Nya, serta menyadari penuh bahwa ujung perjalanan hidup mereka adalah Neraka yang sarat oleh siksa atau Surga yang penuh karunia. Hanya manusia kehilangan akal yang justru lebih memilih Neraka dibandingkan Surga dengan melakukan berbagai tindak kefasikan (pembangkangan).


[ayat 30-39] Al-Baqarah pun kemudian menceritakan dua kisah sebagai contoh sikap makhluk terhadap aturan-aturan Allah, yaitu kisah Adam dan Iblis serta kisah Musa dan Bani Israil. Adam AS diciptakan oleh Allah dengan bekal berupa ilmu yang tidak dimiliki oleh Iblis maupun para malaikat. Melihat kenikmatan ini, Iblis pun dengki sehingga berlaku sombong menentang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Di sisi lain, Allah juga menempatkan Adam AS bersama istrinya di Surga yang penuh kenikmatan. Sayangnya, semua itu pun sirna ketika mereka ternyata mengikuti godaan Iblis sehingga menerjang larangan Allah. Atas rahmat Allah, Adam AS pun tulus bertauat sehingga berbalik menjadi hamba pilihan sementara sang Iblis tetap nekat untuk menjadi penjahat sejati sampai mati.


[ayat 40-66] Selanjutnya, surah Al-Baqarah berkisah tentang Bani Israil, dimulai dengan seruan untuk rajin bersyukur dan beribadah serta menjauhi sikap-sikap nista berupa pengingkaran janji, penerjangan aturan, dan pemutarbalikkan kebenaran. Allah SWT telah menganugerahi mereka—bersama Nabi Musa AS—aneka nikmat yang melimpah. Tetapi Bani Israil adalah kaum pembangkang. Allah menyelamatkan mereka dari kekejaman Firaun, tetapi mereka justru berbuat syirik menyembah patung. Allah pun mengampuni mereka dan menurunkan nikmat agung berupa kitab suci Taurat, tetapi mereka tidak puas dan justru menolak tunduk sebelum melihat Allah secara langsung. Allah pun berkenan mengampuni dan melimpahkan nikmat berupa payung awan serta makanan dari langit yang siap santap. Bahkan Allah mengucurkan dua belas mata air sebagai sumber minuman. Tetapi banyak dari mereka yang tetap enggan bertaubat. Mereka bahkan merasa bosan dan menuntut pemberian jenis makanan lain. Akhirnya Allah pun memenuhinya tetapi sekaligus menghukum mereka dengan azab berupa kemiskinan dan keterhinaan. Bahkan, Allah menghukum sebagian pembangkang Bani Israil ini dengan mengubah mereka menjadi kumpulan monyet yang hina, walaupun tetap ada juga kalangan Bani Israil yang teguh beriman dan beramal shalih yang akan menunai pahala mulia di Akhirat nanti.


[ayat 66-71] Al-Quran selanjutnya menceritakan kisah "penyembelihan sapi (baqarah)" sebagai kisah utama yang akhirnya menjadi nama surah agung ini. Ketika seorang Bani Israil tiba-tiba tewas, mereka meminta Nabi Musa AS menunjukkan siapa pembunuhnya. Allah pun memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi untuk dipukulkan bagian tubuhnya ke jenazah orang tersebut. Namun, mental mengeyel Bani Israil belum juga hilang. Mereka menuntut ditentukannya kriteria sapi itu (semula bebas sembarang sapi). Allah pun menentukan sapi itu berumur sedang. Mereka bertanya lagi tentang warnanya. Allah pun menentukannya berwarna kuning. Belum puas, mereka berbelit lagi menuntut ciri-ciri yang detail. Allah pun menyatakan itu bukan sapi pekerja dan sama sekali tidak bercacat. Setelah bersikeras mencari, barulah mereka berhasil menemukan sapi itu kemudian menyembelihnya. Allah SWT memberikan perintah yang mudah, tetapi mereka mempersulit diri mereka sendiri.


[ayat 72-82] Begitu dipukul, jenazah itu atas izin Allah kembali hidup dan menceritakan ihwal pembunuhan dirinya. Peristiwa ini sekaligus menampilkan kemahakuasaan Allah dalam membangitkan jasad yang telah mati. Sayangnya, bagi Bani Israil pelajaran dari mukjizat agung ini tidak membekas lama. Hati mereka kembali kaku melebihi batu. Allah pun mengingatkan kaum muslimin agar tidak terlalu berharap akan keimanan orang-orang yang sejenis dengan para pembangkang Bani Israil ini. Mereka mendengar wahyu Allah, tetapi memutarbalikkannya secara sengaja. Mereka mengaku beriman, tetapi diam-diam berkomplot dengan kaum kafir. Seolah mereka lupa bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-gerik dan isi hati. Demikianlah kalangan terpelajar mereka. Sementara itu, kalangan awam mereka tidak begitu mengerti akan wahyu dan kitab suci sehingga dengan mudahnya terkelabui oleh wahyu-wahyu palsu buatan kalangan terpelajar tersebut yang tidak lain adalah kalangan terpelajar buta hati yang gemar mempermainkan ilmu. Tanpa dalil apapun, dengan angkuhnya mereka mengklaim bahwa keberadaan mereka di Neraka nanti hanyalah sebentar. Padahal, jiwa seorang hamba yang telah dikepung oleh rantai dosa tidak akan beralih dari siksa kekal di dalam Neraka.


[ayat 83-103] Al-Baqarah pun melanjutkan kisah pembangkangan Bani Israil. Mereka telah berjanji untuk rajib ibadah dan berbuat baik terhadap sesama, tetapi tiba-tiba kebanyakan mereka menjadi durhaka. Mereka telah berjanji untuk tidak membunuh sesama, tetapi seketika mereka saling berperang dan bahkan nekat membunuh nabi-nabi utusan Allah. Karunia agung berupa wahyu melalui para nabi semenjak Musa AS sampai Isa AS itu mereka tolak secara angkuh. Lantas ketika wahyu itu kemudian turun melalui nabi yang bukan Bani Israil, seketika mereka iri dan dengki sehingga mengingkarinya tanpa alasan yang masuk akal. Kehidupan Akhirat yang abadi itu mereka jual begitu saja demi kepentingan duniawi. Mereka begitu takut akan kematian karena tahu pasti bahwa hanya di Dunia yang fana inilah ada kesempatan untuk berkata culas dan bertindak bejat, termasuk berkomplot dengan Syetan dalam menjalankan sihir pengganggu manusia dan perusak jalinan rumah-tangga.


[ayat 104-122] Bani Israil yang berkali-kali mendapatkan nikmat wahyu (sehingga mereka disebut "Ahlul Kitab") menganggap bahwa Surga adalah milik tunggal mereka. Sesama Bani Israil, kalangan Yahudi dan kalangan Nasrani pun saling mencela dan bersengketa. Masing-masing melontarkan klaim yang tak berdasar. Padahal, hak menikmati Surga adalah ditentukan oleh keimanan dan ketakwaan. Alih-alih melakukan kebaikan, mereka merusak masjid-masjid tempat kaum mukminin beribadah. Alih-alih mengesakan Allah, mereka justru lancang mengatakan Allah memiliki anak. Alih-alih mendukung Rasulullah SAW dan para pengikut tulus beliau, kalangan kafir Yahudi dan Nasrani ini justru tidak merasa puas kecuali bila kaum mukminin itu murtad dan beralih menjadi pengikut mereka.


Ayat-ayat di bagian awal surah Al-Baqarah ini semuanya mengandung pesan mendalam bahwa kekafiran (penolakan terang-terangan), kemunafikan (penolakan terselubung), dan kefasikan (sikap durhaka) terhadap wahyu dan ajaran Allah—baik total maupun parsial—adalah pangkal segala bencana. Pelakunya tak akan hidup tenteram karena kata-katanya akan saling bertentangan dan hari-harinya akan penuh oleh angan-angan kosong dan kedengkian. Hanya hamba yang tulus beriman, bertakwa, dan beramal shalih yang akan betul-betul merasakan kebahagiaan. Merekalah yang mengerti benar agungnya nikmat wahyu. Saat bersalah, mereka akan senantiasa tulus bertaubat. Mereka sungguh-sungguh paham bahwa hanya dengan menerapkan ajaran Allah seutuhnyalah hidup ini akan tenteram dan bahagia selamanya. Merekalah para hamba yang berhasil (al-muflihûn). Wallâhu a'lam.

more...
No comment yet.
Scooped by Babanya Shofia
Scoop.it!

Makna-makna Utama Surah Al-Fatihah

 

Surah Al-Fatihah (Al-Fâtihah) adalah surah Al-Quran yang paling agung dan paling terkenal. Surah yang merupakan inti Al-Quran ini mengawali rangkaian surah-surah berikutnya di bagian awal Mushaf dan dibaca berulang-ulang oleh setiap muslim dalam setiap rakaat shalatnya, minimal 17 kali dalam sehari. Oleh karena itu, Rasulullah SAW (sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Ahmad) menyebutnya sebagai "ummu-l qur'ân" (induknya Al-Quran), sebagai "fâtihatu-l kitâb" ("pembuka Kitab Suci"), sebagai "as-sab'u-l matsâniy" (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan sebagai "al-qur'ânu-l 'azhîm" (bacaan yang agung). Dua sebutan terakhir ini bahkan dinyatakan sendiri oleh Al-Quran pada surah Al-Hijr ayat ke-9. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah pun menegaskan bahwa surah ini (dengan kandungan-kandungan maknanya yang begitu istimewa) belum pernah diwahyukan oleh Allah SWT kepada para rasul dan nabi-nabi terdahulu.


Al-Fatihah telah diturunkan semenjak Rasulullah SAW masih berada di Makkah. Para ulama sepakat bahwa surah ini mengandung tujuh ayat, tetapi ada dua versi penghitungan: (1) versi para imam Qiraat di Makkah dan Kufah yang menghitung bacaan Basmalah sebagai ayat pertama diikuti oleh enam ayat berikutnya; serta (2) versi para imam Madinah dan Bashrah yang memandang Basmalah sebagai ayat tersendiri di luar Al-Fatihah dan menghitung bacaan "ghairi-l maghdhûbi 'alaihim wala-dh dhâllîn" sebagai ayat ketujuh. Versi yang kedua ini amat populer di kalangan ulama terdahulu, tetapi versi yang pertamalah yang saat ini banyak dipakai oleh umat Islam. Kedua versi penghitungan ini sama-sama memiliki landasan kuat dan riwayat yang valid. Beberapa ayat dan surah Al-Quran memang diturunkan oleh Allah SWT dalam lebih dari satu versi bacaan (qira'at) yang sama-sama sah serta mengandung inti makna yang searah dan tidak saling bertentangan.


Begitu istimewanya bacaan dan kandungan makna surah ini, Allah SWT bahkan berfirman dan sebuah hadits qudsi, "Aku membagi (bacaan hamba-Ku ketika berdiri dalam) shalat menjadi dua bagian dan hamba-Ku berhak memperoleh apa yang ia pinta." (HR. Muslim). Lanjutan hadits tersebut: "Ketika sang hamba mengucapkan: 'Al-hamdu lillâhi rabbil 'âlamîn', Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku'. Ketika ia mengucapkan: 'Ar-Rahmâni-r Rahîm', Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuja-Ku'. Ketika ia mengucapkan: 'Mâliki yaumi-d dîn', Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku'. Ketika ia mengucapkan: 'Iyyâka na'budu waiyyâka nasta'în', Allah pun berfirman: 'Ini antara Aku dengan hamba-Ku. Hamba-Ku berhak memperoleh apa yang ia pinta'. Lantas ketika ia mengucapkan 'Ihdina-sh shirâtha-l mustaqîm, shirâtha-l ladzîna an'amta 'alaihim, ghairi-l maghdhîbi 'alaihim wala-dh dhâllîn', Allah pun berfirman: 'Ini untuk hamba-Ku. Hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia pinta." Sedemikian agungnya surah ini sehingga Allah SWT akan menjawab setiap kalimat dalam ayat-ayatnya ketika kita ucapkan pada setiap rakaat shalat kita.


Al-Fatihah memang merupakan inti dari seluruh surah Al-Quran. Rangkaian ayatnya mengandung makna-makna utama yang merupakan inti agama Islam itu sendiri. Ayat-ayat Al-Fatihah mengandung pengakuan dan puja-pujian untuk Allah SWT dengan segala asma' husna dan sifat-sifatnya yang Maha-Agung lagi Mahamulia. Surah ini juga mengandung inti agama berupa pengabdian (ibadah) dan kepasrahan total (isti'anah) kepada Allah SWT semata. Surah ini pun mengandung permohonan akan nikmat petunjuk (hidayah) yang akan mengantarkan setiap muslim menuju kebahagiaan Dunia-Akhirat dengan menapaki jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim), berbekal ilmu dan aqidah yang benar serta amal dan akhlaq yang sesuai dengan tuntunan.

 

PUJA-PUJI UNTUK ALLAH DAN RANGKAIAN ASMA' HUSNA

 

Al-Fatihah dimulai dengan penyebutan nama Allah yang Rahman dan Rahim, atau dimulai dengan memanjaatkan segenap pujian (al-hamdu) kepada Allah Sang Pengatur alam semesta. Al-Fatihah juga menyatakan Allah sebagai Mâlik/Malik yaumi-d dîn (Pemilik dan Penguasa Hari Pembalasan). Pujian kita kepada Allah ini bukanlah sekadar didasari atas kesyukuran nikmat-nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita, melainkan juga karena Allah itu sendiri memang merupakan dzat terpuji yang Maha-sempurna dan sifat-sifat-Nya serba paripurna dan merupakan sumber segala kebaikan di alam raya.


Nama dan sebutan Allah yang tercantum dalam Al-Fatihah merupakan rangkuman dari seluruh nama dan sifat Allah lainnya. Sebutan "Allâh" (biasa dijuluki "Lafzhu-l Jalâlah") berarti "al-ma'bûd" (Sesembahan) yang juga berarti "Maha-Terpuji dan Maha-Sempurna". Sebutan "Rabbu-l 'âlamîn" mengandung pengertian bahwa Allahlah satu-satunya pencipta, pengawas, dan pengatur segala makhluk di alam semesta. Sebutan "Ar-Rahmân" dan "Ar-Rahîm" menegaskan bahwa dalam mengatur alam semesta ini Allah juga Maha-Memberi, Maha-Menyayangi, dan Maha-Mengampuni sehingga setiap hamba tidak perlu takut terzalimi maupun putus asa dalam mengharapkan karunia. Sementara itu, sebutan "Mâlik/Malik yaumi-d dîn" menekankan bahwa Allahlah penguasa alam semesta yang ketetapan takdir-Nya pasti terjadi dan ketetapan syariat-Nya wajib untuk ditaati. Semuanya itu akan jelas ujungnya di alam Akhirat, saat setiap pelaku kebaikan mendapatkan imbalan pahala yang berlipat-lipat dan setiap pelaku keburukan diperlalukan secara adil sesuai dengan kebijaksanaan Allah SWT.

 

IBADAH DAN ISTI'ANAH (PENGABDIAN DAN KEPASRAHAN)

 

Setelah menyatakan puja-puji kepada Allah atas segenap sifat dan karunia-Nya, surah Al-Fatihah (dalam ayat "iyyâka na'budu waiyyâka nasta'în") menyampaikan pernyataan kita bahwa hanya kepada Allahlah kita beribadah dan kepada-Nyalah kita ber-isti'anah. Ibadah berarti pengabdian tulus yang didasari oleh pengagungan dan kecintaan penuh, sedangkan isti'anah berarti kepasrahan utuh dan pemanjaatan doa agar kita mendapatkan pertolongan dalam menjalankan tugas dan menghadapi masalah. Ibadah dan isti'anah ini hanyalah kita tujukan kepada Allah SWT semata, sebagai satu-satunya Sesembahan yang paling kita cintai dan agungkan serta satu-satunya Pengatur Alam yang senantiasa kita dambakan rahmat dan pertolongannya dalam setiap detik hidup kita.


Dengan mempersembahkan ibadah kepada Allah SWT semata, hati dan jiwa seorang muslim akan senantiasa stabil karena semua kehendak dan perasaannya terkendalikan oleh kecintaan kepada Tuhannya. Ia tidak akan pernah menempatkan rasa cintanya kepada suatu benda, harta, tempat tinggal, kerabat dan keluarga, maupun kehendak nafsu melebihi batas yang semestinya. Ia pun dengan mudah akan bisa lega menjalankan tugas-tugas berat yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan hal-hal menggoda yang dilarang-Nya. Ia tahu dengan pasti bahwa semua praktik ketaatan tulus itu akan mengantarkannya pada kebahagiaan yang sempurna, cepat ataupun lambat.
Sementara itu, dengan pemanjatan isti'anah kepada Allah SWT dan rasa tawakal yang utuh, seorang muslim akan bisa menghadapi secara lancar semua hambatan dan rintangan yang ia temui dalam menjalani kehidupan dan pengabdian kepada Allah. Ia pun dengan mudah akan bisa menyelesaikan aneka persoalan dan menghadapi aneka bencana yang menimpanya. Ia tahu pasti bahwa dengan pertolongan dari Allah, tidak ada beban apapun yang tidak mampu ditunaikan serta tidak ada masalah apapun yang tidak dapat dituntaskan.

 

HIDAYAH UNTUK MENITI JALAN YANG LURUS

 

Al-Fatihah kemudian menyampaikan permohonan doa kita kepada Allah SWT agar berkenan memberikan kita hidayah sehingga kita bisa meniti jalan yang lurus (ash-shirâth al-mustaqîm). Hidayah akan jalan yang lurus tersebut mencakup dua hal: (1) petunjuk mengenai pemahaman (aqidah dan ilmu) yang benar serta (2) bimbingan (taufiq) yang membuat kita punya niat tulis untuk menerapkan pemahaman tersebut secara baik dan tepat dalam wujud amal shalih dan akhlaq mulia. Pemahaman dan pengamalan inilah nikmat agung yang dianugerahkan Allah kepada para nabi, ulama, syuhada, dan orang-orang shalih serta para pengikut mereka. Sementara itu, ada dua kelompok yang gagal mendapatkan jalan yang lurus: (1) kelompok yang tersesat 'dhâllûn' karena miskin ilmu dan pemahaman sehingga banyak mengikuti bid'ah dalam aqidah dan ibadah seperti umumnya kaum Nasrani; serta (2) kelompok yang terlaknat 'maghdhûbun 'alaihim' karena mendurhakai ilmu dan tidak tulus beramal sehingga kerap melakukan tindak-tindak kemaksiatan seperti umumnya kaum Yahudi. Hidayah Allahlah yang dapat menyelamatkan kita dari kedua jenis penyimpangan ini.


Barangkali kita bertanya, bukankah setiap muslim telah diberikan hidayah oleh Allah berupa agama Islam? Mengapa kita kembali harus berulang-ulang meminta hidayah? Memang betul, mengenal dan memeluk Islam adalah sebuah hidayah besar, akan tetapi itu barulah hidayah awal yang masih global serta belum terjamin untuk tetap awet terjaga apalagi mantap dan bertambah. Oleh karena itulah, setiap pemeluk agama Islam tetap memerlukan petunjuk lanjutan agar ia bisa mengetahui secara rinci apa yang harus, boleh, atau terlarang untuk ia ucapkan maupun ia lakukan pada setiap waktu dan kondisi, di masa kini maupun mendatang. Ia pun memerlukan bimbingan dari Allah agar pengetahuannya tersebut dapat ia terapkan secara tepat dan senantiasa meningkat. Inilah hidayah terperinci yang senantiasa diperlukan oleh setiap hamba sehingga tidak terjerumus ke dalam salah satu jurang kebinasaan: tersesat karena ketidaktahuan atau terlaknat karena kedurhakaan.


Wallâhu a'lam.

more...
No comment yet.